Minggu, 05 November 2017

d i a m

Aku memilih diam.Menjadikanmu hal yang semu dan tak akan pernah bisa saling meraih.Namun, selalu ku kirimkan pesan-pesan singkat untukmu.Berharap suatu saat kamu membacanya,tanpa harus kusampaikan.Baca saja,tak apa jika pesan-pesanku diabaikan.Tapi pesan-pesan itu akan abadi disini.

"Aku menyukaimu.Jika kau tanya sejak kapan,aku tak pernah tau.karena ketika aku melihatmu, senyuman selalu bersimpuh pada bibirku. Jika kau tanya kenapa aku menyukaimu, Aku tak pernah tau. karena ketika aku melihatmu tersenyum, luka bahkan tak akan berani menghampiriku."

Bacalah pesan ini, hanya jika kamu merasakan hal yang sama denganku. karena diam yang kupilih, adalah alasanku menghindari luka yang mungkin akan kamu berikan.

Selasa, 05 April 2016

Bahagia.

"Dia tengah jatuh cinta"
Begitu kata sahabatmu beberapa waktu lalu.Lalu aku hanya tersenyum saja mendengarnya.Entah,bagiku bahagiamu terlalu sayang untuk dilewatkan.
Jangan tanya ada yang teriris atau tidak dihatiku.Karena,nyatanya aku tetaplah baik-baik saja.Tak ada nyeri bak mereka-mereka yang patah hati.

"Dia tak pernah sebahagia ini"
Ucapnya berkali-kali,mungkin kamu telah banyak melewatkan hari dengannya.Dan aku hanya bisa tersenyum sembari mendo'akan bahagiamu untukku.Aku,masih baik-baik saja.

Jika mereka bertanya mengapa aku masih baik-baik saja padahal begitu banyak kesempatan untuk menjadi sendu.Jawabku hanya berakhir pada, "Bahagianya lah yang terpenting,sebab bahagiaku ada padanya juga".

Bodoh?Ya,terserah apa kata mereka.Aku hanya memahami bahwa bahagia bisa muncul dari apapun.Termasuk dengan menyaksikan bahagiamu dengannya.Sebab aku tahu,bahagia yang besar lahir dari bahagia kecil yang mulai kusyukuri meski bahagianya bukan denganku.

Bila esok ada kesempatan sekali lagi untuk aku membahagiakanmu,akan aku coba bagaimana pun itu agar kamu bahagia.Agar aku tidak benar-benar kehilanganmu.


Hanya saja aku tahu,bahwa kamu tidak ingin
bahagia denganku.

Senin, 04 April 2016

"Aku merindukan aku yang belum pernah bertemu denganmu.Yang belum sepatah ini,yang tidak sepayah ini,yang tidak sepenakut ini hanya karena dikecewakan orang yang sempat aku percaya"
-Aku merindukan aku yang dulu

Sabtu, 02 April 2016

Waktu

Waktu telah menyelesaikan tugasnya. Menjawab pertanyaan-pertanyaan aku,kau dan kita. Bukan lagi terhitung hari atau minggu,tapi selama berbulan-bulan aku telah terperangkap dibawah tanda tanya.

Waktu yang akhirnya menegaskan. Kau dan aku memang tidak untuk menjadi kita. Kau untuk kalian dan aku untuk kami. Kita adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan.

Waktu telah menjawab semuanya. Seharusnya aku bersyukur,setidaknya aku telah mendapatkan kebahagiaan denganmu tadi dan seharusnya kita merayakan kebebasan atas ketidakpastian yang hampir berkarat. 

Mungkin sebagian orang menganggapku terlalu bodoh dengan semua ini,tapi aku hanya ingin memperjuangkanmu;memperjuangkan pria yang selalu membuat pikiranku penuh dengan tanda tanya. Sekarang,biarlah waktu ini yang membuat aku dekat denganmu. 

Biarlah,sampai Tuhan yang membukakan matamu bahwa aku ini selalu berjuang untukmu.

Sabtu, 12 Maret 2016

Pada Akhirnya

Pada akhirnya,kamu hanya perlu mensyukuri apa pun yang kamu miliki hari ini.Walaupun yang kau tunggu tak pernah datang.Walaupun yang kau perjuangkan tak pernah sadar dengan apa yang kau lakukan.Nikmati saja.Kelak,dia yang kau cintai akan tahu,betapa kerasnya kau memperjuangkannya.Betapa dalamnya rasa yang kau simpan padanya.Dia hanya berpura-pura tidak tahu,atau mungkin tidak mau tahu sama sekali.Tidak usah dihiraukan,jika sampai hari ini kau masih memperjuangkannya,dan masih menunggunya,tidak masalah.Tidak ada salahnya dalam memperjuangkan cinta yang kau rasa.

Namun,satu hal yang mungkin bisa kau renungkan.Menunggu ada batasnya.Dan,kau akan tahu kapan harus berhenti dan mulai berjalan lagi.Meninggalkan tempat di mana kamu pernah berjuang sepenuh hati,tetapi tidak dihargai.

Senin, 16 November 2015

Aku Berharap Itu Kamu

ku termangu di depan laptopku dengan sisa-sisa kekuatan yang aku punya. Aku baru saja membaca buku yang baru saja aku beli. Setiap detail dalam buku itu benar-benar aku perhatikan, aku menyibukan diriku demi melupakanmu. Untungnya, aku sedang sibuk membaca novel, dan ini sedikit membantuku untuk melupakan kenangan tentangmu, meskipun tak seutuhnya membantu.

Mungkin, kamu tidak akan membaca tulisan ini, tapi Alsya-mu akan selalu menulis tentangmu, meskipun aku pun tahu-- kamu tidak akan pernah tahu. Kamu tidak akan pernah tahu betapa tersiksanya hari-hariku tanpa mengetahui kabar darimu. Kamu tidak akan mengerti betapa dadaku sesak setiap memikirkanmu. Kamu tidak akan pernah menyadari betapa rindu di dadaku layaknya kelinci nakal yang memaksa keluar kandang meskipun tahu bahwa dunia luar sungguhlah tidak aman untuk sang kelinci, meskipun aku tahu duniamu bukanlah dunia yang aman untukku.

Berhari-hari, aku berusaha mengisi waktu luangku, dengan apapun yang bisa aku kerjakan agar aku tidak punya waktu bahkan sedetik saja untuk mengingatmu. Karena kamu sudah begitu lekat di sana, karena dirimu sudah punya tempat tetap di sana; di hatiku yang nyatanya belum dihuni orang lain selain dirimu. Dan, aku belum menemukan cara terbaik untuk menghilangkanmu, kamu selalu kembali teringat lagi ketika aku berusaha mengusirmu pergi. Entahlah, mungkin memang kamu diciptakan untuk tetap tinggal, meskipun sebenarnya kebersamaan aku dan kamu tak lagi ada.

Aku memaksa diriku untuk melupakan rambutmu, untuk tak lagi mengingat suaramu, untuk membakar semua memori tentang kebahagiaanmu saat bercerita tentang kebodohanmu, untuk memudarkan senyummu di otakku, untuk menghilangkan jutaan deretan huruf dan angka yang muncul dalam chat kita, untuk mengusir semua rasa cinta-- dan aku mutlak gagal. Aku harus menerima kenyataan bahwa kamu mungkin akan selalu berdiam di sana, di hatiku yang telah kamu patahkan berkali-kali, namun aku maafkanmu lagi dan lagi.

Salahkan aku jika ini berlebihan, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertarik padamu. Pertama kali melihat semua karyamu, melihat polah tingkahmu, mendengar suaramu, melirik senyummu, dan membaca semua chat kita-- sungguh aku tak bisa menahan diri untuk tidak mencintaimu. Meskipun aku tahu mencintaimu adalah awal tragedi buatku, karena aku pasti harus cemburu pada ribuan fansmu, aku harus makan hati karenachat-ku tidak dibalas berkali-kali, dan aku harus berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankanmu. Ya, perjuanganku untuk mencintaimu memang sangat berat, bahkan aku sudah kehilanganmu sebelum aku sempat memilikimu. 

Tulisan ini sungguh sangat tidak penting, hanya berisi tangis seorang gadis berumur belasan yang meminta kejelasan. Lalu, apa artinya chat kita hingga larut malam yang bisa membuatku tertawa tak henti itu? Lalu, apa maksudnya kata-kata lembutmu yang bisa menyihirku dalam asa semua? Lalu, apa tujuan dari semua ketika aku mulai jatuh cinta lalu kaupergi seenaknya? Nah, jika kamu membaca ini, tentu kamu akan balik bertanya, "Memangnya kamu siapa?" Aku jelas bukan siapa-siapa dan mungkin aku hanyalah perempuan bodoh yang terlalu menggunakan perasaan, yang tak berpikir bahwa berlian sepertimu tak mungkin jatuh cinta pada tanah liat sepertiku. Seharusnya, aku memang sadar diri, sejak awal percakapan kita itu, aku semestinya tak perlu berharap lebih.

Aku pun ingin berpikir logis, aku pun ingin menggunakan logikaku, dan aku pun ingin tidak sepeka pria, karena menjadi perempuan peka sungguhlah melelahkan. Aku pun ingin tak berharap lebih, tapi aku sudah mencintaimu, dan bagaimana caranya mengantisipasi semua luka jika kamu tidak akan pernah kembali lagi untuk sekadar mengobati perihku? Aku pun ingin melupakanmu, tapi saat tahu bahwa bersamamu sungguhlah menyenangkan, rasanya sangat sulit untuk melupakanmu hanya dalam hitungan hari. Aku pun ingin menjauh dari semua bayangmu, tapi diriku selalu menginginkanmu, mataku hanya mau membaca semuachat darimu, dan hatiku hanya menuju padamu. Lantas, di dinginnya kota Padang malam ini, aku hanya menyesali semua air mata yang terjatuh sia-sia untukmu.

Aku sungguh jatuh cinta padamu dan rasanya sangat sulit menerima kenyataan bahwa kita tidak lagi bercakap-cakap sesering dulu lagi. Dalam kesibukanmu, aku selalu menatap ponselku. Setiap ada pemberitahuan masuk, aku berharap itu kamu. Setiap ponselku berdering, aku berharap itu kamu. Setiap sebuah chat masuk, aku berharap itu kamu. Setiap layar ponseku menyala, aku berharap itu kamu. Setiap ponselku berbunyi, aku berharap itu kamu.

Aku berharap itu kamu, yang memegang jemariku kala aku kebingungan menentukan arah hidupku. Aku berharap itu kamu, pria yang dengan lembut memelukku ketika aku kelelahan menghadapi dunia. Aku berharap itu kamu, yang menemaniku keliling-keliling kota, di bawah sinaran lampu jalanan, dan aku memelukmu layaknya orang yang paling takut kehilangan. Aku berharap itu kamu, pria yang mengecupku dengan sangat pelan, menenangkan tangisku yang sesenggukan, dan berkata bahwa semua akan tetap berjalan.

Aku berharap itu kamu, wahai penghulu malaikat yang berperang melawan setan dan kejahatan. Aku berharap itu kamu, racunku yang juga adalah penenangku. 


dari Alsya-mu,
yang masih terus diam-diam;
menunggumu.

Rabu, 28 Oktober 2015

Bisakah Kaubayangkan Rasanya jadi Aku?

Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam.

Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu ternyata tak terjadi, pertama kali melihatmu; aku tahu suatu saat nanti kita bisa berada di status yang lebih spesial. Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia.... dulu.

Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, semua hal itu seakan tak kaugubris. Kamu di sampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar-benar kaurasakan. Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas. Apakah kamu benar tidak memikirkan aku? Bukankah kata teman-temanmu, kamu adalah perenung yang seringkali menangis ketika memikirkan sesuatu yang begitu dalam? Temanmu bilang, kamu melankolis, senang memendam, dan enggan bertindak banyak. Kamu lebih senang menunggu. Benarkah kamu memang menunggu? Apalagi yang kautunggu jika kausudah tahu bahwa aku mencintaimu?

Tuan, tak mungkin kautak tahu ada perasaan aneh di dadaku. Kekasihku yang belum sempat kumiliki, tak mungkin kautak memahami perjuangan yang kulakukan untukmu. Kamu ingin tahu rasanya seperti aku? Dari awal, ketika kita pertama kali berkenalan, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap hari. Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kautersenyum setiap hari, tapi ternyata harapku terlalu tinggi.

Semua telah berakhir. Tanpa ucapan pisah. Tanpa lambaian tangan. Tanpa kaujujur mengenai perasaanmu. Perjuanganku terhenti karena aku merasa tak pantas lagi berada di sisimu. Sudah ada seseorang yang baru, yang nampaknya jauh lebih baik dan sempurna daripada aku. Tentu saja, jika dia tak sempurna—kautak akan memilih dia menjadi satu-satunya bagimu.

Setelah tahu semua itu, apakah kamu pernah menilik sedikit saja perasaanku? Ini semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba menjauh tanpa sebab. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat harus (terpaksa) ikhlas karena akhirnya kamu sibuk dengan kekasihmu. Aku berusaha memahami itu. Setiap hari. Setiap waktu. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir dan aku tak boleh lagi berharap terlalu jauh.

Tuan, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.

Kalau kauingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu.

Setiap hari, setiap waktu, setiap aku melihatmu dengannya; aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun.... sampai kapan aku harus terus mencoba?

Sementara ini saja, aku tak kuat melihatmu menggenggam jemarinya. Sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu kucintai ternyata malah memilih pergi bersama yang lain. Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu kemudian mencari pengganti.

Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku tak tahu apa salahku sehingga kita yang baru saja kenal, baru saja mencicipi cinta, tiba-tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata. Tak penasarankah kamu pada nasib yang membiarkan kita kedinginan seorang diri tanpa teman dan kekasih?

Aku menulis ini ketika mataku tak kuat lagi menangis. Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir, meskipun tak pernah benar-benar tinggal. Seandainya kautahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku, mungkin kamu akan berbalik arah—memilihku sebagai tujuan. Tapi, aku hanya persinggahan, tempatmu meletakan segala kecemasan, lalu pergi tanpa janji untuk pulang.

Semoga kautahu, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari, ketika kulihat kamu bersama kekasih barumu. Aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam.

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya? Bisakah kaubayangkan rasanya jadi aku yang setiap hari harus melihatmu dengannya?

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?

Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu tidak perasa.